Dimanapun tempat anda menginap, kemanapun Destinasi Wisata anda di kota Garut, pastikan HDG Team yang mendampingi liburan anda!

Rabu, 11 Februari 2015

Surak Ibra Kesenian Tradisional Khas Garut

Setelah sebelumnya Wisata Garut memperkenalkan Dodombaan sebagai salah satu Seni Tradisional Khas Garut, kali ini kami akan memberikan review tentang Surak Ibra yang merupakan salah satu Kesenian Mistis dari Garut.

Indonesia merupakan negara yang memiliki keanekaragaman budaya., Keunikan dan keberagaman budaya Indonesia ini menjadikan modal dasar pembangunan bangsa.  Berbagai jenis budaya bangsa harus tetap dipelihara dan dilestarikan  sebagai upaya mempertahankan jati diri bangsa. Kesenian daerah merupakan salah satu jenis budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.



Setiap daerah memiliki kesenian daerah yang menjadi cirikhasnya. Salah satunya kesenian daerah Jawa Barat, tepatnya di Kabupaten Garut yaitu Surak Ibra. 

Kesenian ini belum banyak dikenal oleh masyarakat di luar kabupaten Garut.Di kalangan masyarakat Garut, kesenian ini pada mulanya dikenal sebagai kesenian Boyongan atau Boboyongan yang menampilkan seorang tokoh masyarakat yang bernama Pak Ibra, seorang pendekar pencak silat yang memiliki kharismatik di Kabupaten Garut. 

Berdasarkan nama Pak Ibra inilah, kemudian menjadikan nama kesenian Boyongan atau Boboyongan ini menjadi SurakIbra. Hal itu dilakukan oleh masyarakat kabupaten Garut sebagai penghormatan terhadap Bapak Ibra.

Pada masa yang lalu, pertunjukan seni Surak Ibra ini dipertunjukkan pada pesta-pesta di Garut, yang biasa dikenal sebagai Pesta Raja. Apabila para dalem (keluargabangsawan=bupati) Garut mengadakan hajatan. Seiring dengan berjalannya waktu dan perkembangan jaman, pertunjukan Surak Ibra menjadi seni pertunjukan khas Kabupaten Garut. 

Hiruk pikuk tetabuhan alat musik tradisional berpadu dengan suara para pemain saling sahut memasuki arena alun-alun. Kesenian ini sangat sederhana tapi mengundang mata untuk melihat karena warna-warni pakaian belasan pemain.

Sementara alat yang digunakan hanya seperti dua bonggol bambu, kentongan bamboo, angklung, dan suling. Kata-kata yang dilontarkan pun terdengar sederhana tapi sesuai dengan irama musik dan mengalun seperti musik acapella.

Para pemain akan membentuk lingkaran yang mirip arena tari kecak asal bali. Di luar lingkaran akan berjajar pemain musik, dengan baju yang berbeda warna, yang akan lalu lalang sambil membunyikan alat musik yang mereka bawa. Sementara di tengah lingkaran, ada seorang pemain yang mengenakan baju beda sendiri, yang akan menari mengeliling lingkaran, sambil sesekali menyambangi para pemain di lingkaran.

Kesenian ini berakhir, dengan diusungnya si pemain tunggal di tengah lingkaran, yang sesekali dilempar ke atas sebagai wujud kegembiraan dan penghormatan.

Dalam perkembangan berikutnya, Surak Ibra sering kali ditampilkan dalam upacara hari-hari besar nasional, seperti HUT kemerdekaan RI. Pada awal kelahirannya, Surak Ibra berasal dari Desa Cinunuk, KecamatanWanaraja, Kabupaten Garut. 

Di Cinunuk sendiri ada organisasi masyarakat yang bernama Himpunan Dalem Emas (HDE) yang turut melestarikan kesenian Surak Ibra. Namun,dengan pertimbangan bahwa Surak Ibra ini sudah menjadi milik negara, maka pada tahun 1948 HDE dibubarkan dan pengelolaan kesenian ini dilanjutkan aparat desa hingga sekarang.



Posted by: HDG Team Trip Planner Tour Organizer
Hotel di Garut Updated at: 17.31

1 komentar: